Panduan Lengkap Minyak Jelantah: Dari Limbah Berbahaya hingga Energi Terbarukan

Table of Contents

Minyak jelantah—dua kata sederhana yang mungkin sering Anda dengar, namun apakah Anda benar-benar memahami apa itu, dari mana asalnya, dan mengapa limbah dapur ini kini menjadi komoditas berharga dalam industri energi terbarukan global? Artikel komprehensif ini akan mengupas tuntas segala hal tentang minyak jelantah, mulai dari definisi ilmiah hingga transformasinya menjadi solusi energi masa depan.

Apa Itu Minyak Jelantah?

Minyak jelantah adalah istilah populer untuk menyebut minyak goreng bekas pakai yang telah mengalami proses pemanasan berulang kali dalam proses penggorengan makanan. Dalam bahasa Inggris, minyak jelantah dikenal sebagai “used cooking oil” (UCO) atau “waste cooking oil” (WCO).

Secara teknis, minyak jelantah adalah minyak nabati atau hewani yang telah mengalami degradasi fisik dan kimia akibat proses oksidasi, polimerisasi, dan hidrolisis selama pemanasan pada suhu tinggi (160-200°C). Perubahan struktur molekul ini mengakibatkan minyak kehilangan kualitas nutrisinya dan berpotensi berbahaya jika dikonsumsi kembali.

Asal-Usul Minyak Jelantah

Minyak jelantah dapat berasal dari berbagai sumber:

1. Industri Kuliner Komersial

  • Restoran dan rumah makan menghasilkan jelantah dalam jumlah besar dari proses deep frying
  • Hotel dan katering dengan dapur produksi skala besar
  • Warteg dan kedai kopi yang menggoreng gorengan setiap hari
  • Pabrik makanan dengan proses penggorengan industri
  • Food court dan kantin yang melayani ratusan porsi harian

2. Rumah Tangga

  • Dapur rumah tangga yang menggoreng lauk pauk sehari-hari
  • Komplek perumahan dengan produksi jelantah kolektif
  • Acara hajatan dan katering rumahan

3. Industri Fast Food

  • Waralaba makanan cepat saji dengan sistem fryer otomatis
  • Outlet fried chicken dengan volume penggorengan tinggi
  • Kedai burger dan snack dengan menu deep fried

Di Indonesia, diperkirakan produksi minyak jelantah mencapai 3-4 juta ton per tahun. Jakarta sebagai kota metropolitan menghasilkan sekitar 500.000 liter jelantah per hari, namun baru sekitar 30-40% yang terkelola dengan baik. Sisanya berakhir di saluran pembuangan atau, yang lebih berbahaya, didaur ulang secara ilegal menjadi minyak goreng curah.

Proses Terbentuknya Minyak Jelantah

Memahami bagaimana minyak segar berubah menjadi jelantah penting untuk mengetahui mengapa jelantah berbahaya namun sekaligus bernilai ekonomis tinggi.

Tahap Degradasi Minyak Goreng

1. Pemanasan Awal (80-100°C) Pada tahap ini, minyak mulai melepaskan air yang terkandung di dalamnya. Jika makanan yang digoreng mengandung air tinggi, akan terjadi proses hidrolisis awal yang memecah trigliserida menjadi asam lemak bebas dan gliserol.

2. Proses Penggorengan (160-200°C) Ini adalah tahap paling krusial. Pada suhu tinggi, terjadi tiga reaksi kimia utama:

  • Oksidasi: Oksigen dari udara bereaksi dengan asam lemak tak jenuh dalam minyak, menghasilkan peroksida dan aldehida yang menyebabkan bau tengik
  • Polimerisasi: Molekul-molekul minyak bergabung membentuk senyawa polimer yang lebih besar, meningkatkan kekentalan dan warna gelap
  • Hidrolisis: Uap air dari makanan memecah ikatan ester dalam trigliserida, menghasilkan asam lemak bebas yang menurunkan titik asap minyak

3. Pemanasan Berulang Setiap siklus pemanasan memperparah kerusakan molekular. Minyak yang dipanaskan 5-10 kali akan mengalami:

  • Peningkatan viskositas (lebih kental)
  • Perubahan warna menjadi coklat gelap hingga hitam
  • Penurunan titik asap (minyak lebih cepat berasap)
  • Pembentukan busa berlebih saat dipanaskan
  • Aroma tengik yang kuat

Perubahan Karakteristik Fisik dan Kimia

ParameterMinyak SegarMinyak Jelantah
WarnaKuning jernihCoklat gelap – hitam
Viskositas50-60 cP80-150 cP
Asam Lemak Bebas<0.1%2-7%
Bilangan Peroksida<2 meq/kg10-30 meq/kg
Titik Asap180-230°C140-170°C
Total Polar Materials<10%25-40%

Peningkatan Total Polar Materials (TPM) di atas 24-27% menandakan minyak tidak layak pakai dan harus diganti. Sayangnya, banyak pedagang masih menggunakan minyak dengan TPM hingga 40% untuk menekan biaya operasional.

Kandungan Berbahaya dalam Minyak Jelantah

Mengapa minyak jelantah dikategorikan sebagai limbah berbahaya? Mari kita telusuri senyawa-senyawa yang terbentuk selama degradasi minyak.

Senyawa Karsinogenik

1. Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) PAH terbentuk ketika minyak dipanaskan pada suhu sangat tinggi atau mengalami pembakaran parsial. Senyawa seperti benzopyrene dikenal sebagai karsinogen kuat yang dapat memicu kanker jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

2. Acrylamide Terbentuk dari reaksi Maillard antara gula dan asam amino pada suhu di atas 120°C. Konsentrasi acrylamide dalam gorengan yang dimasak dengan jelantah bisa 3-5 kali lebih tinggi dibanding yang digoreng dengan minyak segar.

3. Aldehida Produk oksidasi lemak yang bersifat toksik. Malondialdehyde (MDA) dan 4-hydroxynonenal (4-HNE) dapat merusak DNA dan memicu stres oksidatif dalam sel.

Dampak Kesehatan Konsumsi Jelantah

Konsumsi makanan yang digoreng dengan jelantah secara rutin dapat menyebabkan:

  • Gangguan Kardiovaskular: Peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida dalam darah
  • Risiko Kanker: Akumulasi senyawa karsinogenik dalam jangka panjang
  • Kerusakan Hati: Hati bekerja ekstra keras untuk menetralisir toksin dari jelantah
  • Gangguan Pencernaan: Minyak teroksidasi sulit dicerna dan dapat memicu inflamasi usus
  • Penurunan Fungsi Kognitif: Studi menunjukkan konsumsi jelantah berkorelasi dengan penurunan memori

Penelitian dari Universitas Indonesia (2019) menemukan bahwa 60% pedagang gorengan di Jakarta masih menggunakan minyak yang sama hingga 3-7 hari berturut-turut, jauh melebihi rekomendasi maksimal 2-3 kali pakai.

Dampak Minyak Jelantah terhadap Lingkungan

Jika dampak kesehatan saja sudah mengkhawatirkan, dampak lingkungan dari pembuangan jelantah sembarangan jauh lebih masif dan jangka panjang.

Pencemaran Air: Krisis yang Terabaikan

Fakta Mengejutkan: Satu liter minyak jelantah yang dibuang ke saluran air dapat mencemari hingga 1 juta liter air bersih. Bagaimana ini bisa terjadi?

Ketika jelantah masuk ke sistem perairan:

  1. Pembentukan Lapisan Film Minyak yang lebih ringan dari air akan mengapung dan membentuk lapisan tipis di permukaan. Lapisan ini menghalangi pertukaran oksigen antara udara dan air, menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) yang vital bagi kehidupan akuatik.
  2. Bioakumulasi dalam Rantai Makanan Organisme air yang terpapar jelantah akan mengakumulasi senyawa toksik dalam jaringan tubuhnya. Melalui rantai makanan, konsentrasi toksin ini meningkat (biomagnifikasi) hingga mencapai predator puncak, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan.
  3. Eutrofikasi Jelantah mengandung nutrisi seperti nitrogen dan fosfor. Dalam konsentrasi tinggi, nutrisi ini memicu pertumbuhan alga berlebihan (algal bloom) yang menghabiskan oksigen dan membunuh organisme air lainnya.
  4. Kerusakan Ekosistem Mangrove dan Terumbu Karang Di wilayah pesisir, pencemaran jelantah dapat merusak ekosistem mangrove dan terumbu karang yang sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air.

Penyumbatan Infrastruktur Kota

Masalah jelantah bukan hanya soal ekologi, tetapi juga infrastruktur urban:

  • Fatberg: Di kota-kota besar, akumulasi jelantah di saluran pembuangan bercampur dengan tisu dan sampah padat membentuk gumpalan raksasa bernama “fatberg” yang dapat menyumbat sistem drainase kota
  • Biaya Pembersihan Tinggi: Pemerintah DKI Jakarta menghabiskan miliaran rupiah setiap tahun untuk membersihkan saluran yang tersumbat jelantah
  • Banjir: Saluran tersumbat jelantah berkontribusi signifikan terhadap banjir di musim hujan

Emisi Gas Rumah Kaca

Ketika jelantah dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA), proses dekomposisi anaerobik menghasilkan metana (CH₄), gas rumah kaca yang 25 kali lebih kuat dari CO₂ dalam menangkap panas atmosfer.

Praktik Ilegal Daur Ulang Jelantah

Di balik harga minyak goreng yang fluktuatif, terdapat praktik gelap yang mengancam kesehatan masyarakat: daur ulang jelantah menjadi minyak goreng curah.

Modus Operandi Mafia Jelantah

Sindikat ilegal mengumpulkan jelantah dari berbagai sumber, kemudian melakukan “pemurnian” sederhana:

  1. Penyaringan: Menghilangkan partikel makanan menggunakan kain atau filter kasar
  2. Pemanasan dengan Arang Aktif: Mengurangi warna dan bau menggunakan karbon aktif
  3. Bleaching: Menambahkan pemutih kimia untuk mengembalikan warna kuning jernih
  4. Deodorisasi: Menambahkan pewangi untuk menghilangkan bau tengik
  5. Pengemasan Ulang: Dijual sebagai “minyak goreng curah” dengan harga 20-30% lebih murah

Bahaya Minyak Curah Daur Ulang

Meskipun tampak bersih, minyak hasil daur ulang tetap mengandung:

  • Senyawa karsinogenik yang tidak bisa dihilangkan dengan filtrasi sederhana
  • Asam lemak trans hasil polimerisasi
  • Logam berat dari proses pemurnian ilegal
  • Residu kimia pemutih yang berbahaya

Cara Mengenali Minyak Curah Ilegal:

  • Harga jauh di bawah pasaran (30-40% lebih murah)
  • Berbusa berlebihan saat dipanaskan
  • Cepat berubah warna menjadi gelap saat digunakan
  • Aroma sedikit tengik meski baru dibuka
  • Kemasan tidak berlabel resmi atau tanpa izin BPOM

Kementerian Perindustrian RI mencatat penyitaan ribuan liter minyak curah ilegal setiap tahunnya, namun praktik ini tetap marak karena margin keuntungan yang sangat tinggi.

Transformasi Jelantah Menjadi Biodiesel

Inilah titik balik di mana limbah berbahaya bertransformasi menjadi solusi energi berkelanjutan. Mari kita telusuri perjalanan ilmiah minyak jelantah menjadi biodiesel.

Apa Itu Biodiesel?

Biodiesel adalah bahan bakar nabati yang diproduksi dari minyak atau lemak melalui proses transesterifikasi. Secara kimia, biodiesel adalah campuran methyl ester atau ethyl ester dari asam lemak rantai panjang yang memiliki sifat pembakaran mirip dengan solar (diesel) konvensional.

Proses Transesterifikasi: Ilmu di Balik Konversi

Tahap 1: Pretreatment (Pra-Pengolahan)

Jelantah yang masuk ke pabrik biodiesel harus melalui pembersihan intensif:

  • Filtrasi Multi-Tahap: Menghilangkan partikel padat hingga ukuran 5 mikron
  • Degumming: Menghilangkan fosfatida dan getah
  • Dewatering: Mengurangi kadar air hingga <0.5% karena air mengganggu reaksi transesterifikasi
  • Deacidification: Menurunkan kadar asam lemak bebas melalui netralisasi dengan NaOH

Tahap 2: Transesterifikasi

Ini adalah jantung dari proses produksi biodiesel:

Reaksi kimia: Trigliserida + Methanol → Biodiesel (FAME) + Gliserin

Prosesnya:

  • Jelantah dipanaskan hingga 60-70°C
  • Dicampur dengan methanol dan katalis (NaOH atau KOH) dengan rasio tertentu
  • Reaksi berlangsung selama 1-2 jam dengan pengadukan konstan
  • Terbentuk dua lapisan: lapisan atas biodiesel (FAME – Fatty Acid Methyl Ester) dan lapisan bawah gliserin

Tahap 3: Pemisahan dan Pencucian

  • Gliserin dipisahkan karena lebih berat dan mengendap di bawah
  • Biodiesel dicuci dengan air hangat untuk menghilangkan sisa methanol, katalis, dan sabun
  • Proses pencucian diulang 3-4 kali hingga pH netral

Tahap 4: Pengeringan dan Finalisasi

  • Biodiesel dipanaskan untuk menguapkan sisa air
  • Dilakukan quality control untuk memastikan memenuhi standar ASTM D6751 atau EN 14214
  • Siap untuk dicampur dengan solar atau digunakan murni (B100)

Keunggulan Biodiesel Dibanding Bahan Bakar Fosil

1. Pengurangan Emisi Signifikan

  • CO₂: 78-80% lebih rendah (lifecycle emission)
  • Particulate Matter: 47-50% lebih rendah
  • Sulfur Dioxide (SO₂): Hampir nol karena biodiesel tidak mengandung sulfur
  • Karbon Monoksida (CO): 48% lebih rendah

2. Biodegradable dan Non-Toksik Biodiesel terurai 4 kali lebih cepat dari solar. Jika tumpah ke tanah atau air, dampak lingkungannya minimal dibanding solar fosil yang persisten.

3. Renewable Energy Jelantah adalah sumber terbarukan yang diproduksi setiap hari. Berbeda dengan minyak bumi yang memerlukan jutaan tahun untuk terbentuk.

4. Pelumas Mesin Lebih Baik Biodiesel memiliki sifat lubrikasi (lubricant) yang lebih baik, mengurangi keausan komponen mesin dan memperpanjang umur mesin.

5. Titik Nyala Lebih Tinggi Dengan flash point di atas 130°C, biodiesel lebih aman dalam penyimpanan dan transportasi dibanding solar (flash point 52-96°C).

6. Kompatibilitas Mesin Biodiesel dapat digunakan pada mesin diesel konvensional tanpa modifikasi signifikan, terutama untuk campuran B20 (20% biodiesel + 80% solar).

Produk Sampingan Bernilai: Gliserin

Proses produksi biodiesel menghasilkan gliserin sebagai produk sampingan (sekitar 10% dari total output). Gliserin murni memiliki nilai ekonomi tinggi dan digunakan dalam:

  • Industri farmasi dan kosmetik
  • Produksi sabun dan detergen
  • Bahan baku industri makanan (pemanis)
  • Produksi nitrogliserin untuk obat jantung dan bahan peledak
  • Bahan antifreeze untuk otomotif

Standar Kualitas Biodiesel Internasional

Untuk memastikan biodiesel aman dan efisien, terdapat standar internasional ketat yang harus dipenuhi.

ASTM D6751 (Amerika Serikat)

Parameter utama:

  • Ester Content: Min 96.5%
  • Density (15°C): 860-900 kg/m³
  • Kinematic Viscosity (40°C): 1.9-6.0 mm²/s
  • Flash Point: Min 93°C
  • Sulfur Content: Max 15 ppm
  • Acid Number: Max 0.50 mg KOH/g

EN 14214 (Uni Eropa)

Standar Eropa lebih ketat dalam beberapa aspek:

  • FAME Content: Min 96.5%
  • Iodine Value: Max 120 g I₂/100g
  • Methanol Content: Max 0.20%
  • Water Content: Max 500 mg/kg
  • Cold Filter Plugging Point: Disesuaikan dengan iklim

SNI 7182:2015 (Indonesia)

Indonesia memiliki standar nasional sendiri yang mengacu pada standar internasional namun disesuaikan dengan kondisi tropis dan jenis bahan baku lokal (CPO dan jelantah).

ISCC Certification (International Sustainability & Carbon Certification)

Untuk ekspor ke Eropa, biodiesel harus bersertifikat ISCC yang menjamin:

  • Traceability penuh dari sumber bahan baku
  • Pengurangan emisi GHG minimal 50-60%
  • Tidak berasal dari deforestasi atau konversi lahan
  • Memenuhi standar sosial dan tenaga kerja
  • Audit independen berkala

CUREAHH bermitra dengan pabrik biodiesel bersertifikat ISCC, memastikan setiap liter jelantah yang Anda jual berkontribusi pada rantai pasok energi berkelanjutan global.

Aplikasi Biodiesel di Berbagai Sektor

Biodiesel bukan hanya konsep laboratorium, tetapi solusi energi nyata yang telah diterapkan secara masif.

Transportasi

1. Kendaraan Umum

  • Transjakarta menggunakan campuran B30 (30% biodiesel)
  • Bus antarkota di Eropa banyak yang menggunakan B100
  • Armada taksi di beberapa negara beralih ke biodiesel untuk mengurangi jejak karbon

2. Kendaraan Pribadi Mesin diesel modern (Euro 4 ke atas) dapat menggunakan campuran hingga B20 tanpa modifikasi. Beberapa pabrikan bahkan menjamin garansi untuk penggunaan B30.

3. Transportasi Laut Kapal-kapal ferry dan kapal pesiar mulai menggunakan biodiesel untuk mengurangi emisi sulfur yang merusak ekosistem laut.

Pembangkit Listrik

Generator Set Banyak industri, rumah sakit, dan gedung perkantoran yang menggunakan biodiesel untuk genset backup. Emisi lebih bersih dan kebisingan lebih rendah dibanding solar.

PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Beberapa PLTD di daerah terpencil Indonesia mulai beralih ke biodiesel untuk mengurangi ketergantungan pada BBM subsidi dan menurunkan emisi.

Industri dan Manufaktur

Mesin-Mesin Berat Excavator, bulldozer, dan alat berat konstruksi dapat menggunakan biodiesel B20-B30. Beberapa kontraktor besar mulai beralih untuk memenuhi target ESG (Environmental, Social, Governance).

Industri Pertanian Traktor dan mesin pertanian modern kompatibel dengan biodiesel, memberikan opsi bahan bakar terbarukan untuk sektor agrikultur.

Aplikasi Non-Energi

Selain bahan bakar, biodiesel juga digunakan sebagai:

  • Solvent ramah lingkungan untuk pembersih industri
  • Bio-lubricant untuk pelumas mesin
  • Bahan pelarut cat yang biodegradable
  • Bahan bakar pemanas di negara-negara beriklim dingin

Program Biodiesel Nasional Indonesia

Pemerintah Indonesia sangat serius dalam mengembangkan biodiesel sebagai bagian dari transisi energi nasional.

Mandatori Biodiesel (B30 dan Target B35-B40)

Sejak Januari 2020, Indonesia mewajibkan penggunaan B30 (30% biodiesel + 70% solar) untuk semua sektor. Program ini:

  • Menghemat devisa hingga USD 4.5 miliar per tahun dari pengurangan impor minyak
  • Mengurangi emisi CO₂ sebesar 29.2 juta ton per tahun
  • Menyerap 9.4 juta ton CPO domestik

Target ke Depan:

  • 2025: B35 untuk transportasi
  • 2030: B40 untuk semua sektor
  • 2040: B50 untuk transportasi umum

Insentif Industri Biodiesel

Pemerintah memberikan berbagai insentif:

  • Subsidi selisih harga antara biodiesel dan solar
  • Tax holiday untuk investasi pabrik biodiesel baru
  • Kemudahan perizinan untuk pengumpulan jelantah
  • Program kemitraan BUMN dengan pengepul lokal

Tantangan dan Peluang

Tantangan:

  • Kompetisi dengan industri makanan untuk bahan baku CPO
  • Infrastruktur pengumpulan jelantah yang belum merata
  • Kesadaran masyarakat yang masih rendah tentang nilai ekonomis jelantah
  • Praktik ilegal daur ulang jelantah

Peluang:

  • Potensi ekspor biodiesel ke Eropa dan Amerika
  • Penciptaan lapangan kerja di sektor pengumpulan dan distribusi jelantah
  • Pengembangan teknologi second-generation biodiesel
  • Kemitraan strategis dengan negara-negara maju dalam transfer teknologi

Peran Masyarakat dalam Ekonomi Sirkular Jelantah

Transformasi jelantah dari limbah menjadi energi tidak akan terwujud tanpa partisipasi aktif masyarakat.

Konsep Ekonomi Sirkular

Ekonomi sirkular adalah model ekonomi yang menjaga produk, komponen, dan material tetap pada nilai kegunaannya selama mungkin, meminimalkan limbah. Dalam konteks jelantah:

Linear Economy (Model Lama): Minyak Goreng → Penggunaan → Pembuangan → Pencemaran Lingkungan

Circular Economy (Model Baru): Minyak Goreng → Penggunaan → Pengumpulan → Pengolahan → Biodiesel → Energi Bersih → Ekonomi & Lingkungan Berkelanjutan

Aksi Nyata untuk Individu dan Keluarga

1. Kumpulkan, Jangan Buang Biasakan menyimpan jelantah dalam wadah tertutup. Meski hanya 1-2 liter per bulan, jika dikumpulkan bersama tetangga dalam satu RT/RW, bisa mencapai 40-60 liter yang cukup untuk dijual.

2. Edukasi Lingkungan Sekitar Bagikan informasi tentang bahaya membuang jelantah sembarangan dan manfaat menjualnya ke pengepul resmi seperti CUREAHH.

3. Dukung Usaha Kuliner Bertanggung Jawab Pilih rumah makan dan restoran yang mengelola jelantahnya dengan baik. Tanyakan apa yang mereka lakukan dengan minyak bekas mereka.

4. Gabung Program Kemitraan Jika memiliki akses ke sumber jelantah (warteg, kantin, restoran), bergabunglah sebagai mitra pengumpul untuk mendapat penghasilan tambahan sambil berkontribusi pada lingkungan.

Dampak Kolektif

Bayangkan jika setiap rumah tangga di Jakarta (3 juta KK) mengumpulkan hanya 2 liter jelantah per bulan:

  • Total: 6 juta liter/bulan = 72 juta liter/tahun
  • Pencegahan pencemaran: 72 triliun liter air
  • Produksi biodiesel: ~64 juta liter
  • Pengurangan emisi CO₂: ~150 ribu ton/tahun
  • Nilai ekonomi: Rp 432 miliar untuk masyarakat (asumsi Rp 6.000/liter)

Angka-angka ini menunjukkan bahwa tindakan kecil individu, ketika dilakukan kolektif, menciptakan dampak masif.

Kesimpulan: Dari Ancaman Menjadi Harapan

Minyak jelantah adalah paradoks modern: di satu sisi merupakan limbah berbahaya yang mengancam kesehatan dan lingkungan, di sisi lain adalah sumber daya berharga untuk energi terbarukan. Pilihan ada di tangan kita semua.

Setiap liter jelantah yang Anda kumpulkan dan jual ke pengepul resmi seperti CUREAHH adalah kontribusi nyata untuk:

  • ✅ Mencegah pencemaran 1 juta liter air bersih
  • ✅ Mengurangi emisi gas rumah kaca setara menanam 5 pohon
  • ✅ Mendukung industri energi terbarukan nasional
  • ✅ Mendapatkan penghasilan dari limbah
  • ✅ Melindungi masyarakat dari bahaya minyak curah ilegal

Transformasi jelantah menjadi biodiesel bukan sekadar proses kimia, tetapi representasi dari ekonomi sirkular yang berkelanjutan—di mana tidak ada yang terbuang, semuanya memiliki nilai, dan setiap orang dapat berkontribusi.

Mulai hari ini, ubah mindset Anda: Jelantah bukan sampah, tetapi sumber daya. Kumpulkan, jual ke pengepul terpercaya, dan jadilah bagian dari revolusi energi hijau Indonesia.


Siap menjual minyak jelantah Anda? CUREAHH siap menjemput gratis minimal 40 liter dengan harga terbaik di Jakarta dan sekitarnya. Hubungi kami via WhatsApp di 0812-9565-7833 atau kunjungi drop point terdekat di Jakarta Barat dan Jakarta Utara.

Bersama CUREAHH, ubah jelantah Anda menjadi berkah untuk bumi dan dompet!


Artikel ini ditulis berdasarkan riset ilmiah, data pemerintah, dan pengalaman CUREAHH dalam industri pengumpulan dan distribusi minyak jelantah sejak 2022. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi website kami di www.cureahh.com

Picture of Tim  Admin Cureahh

Tim Admin Cureahh

siap membantu Anda menjual minyak jelantah dengan harga terbaik. Kami melayani Jakarta dan sekitarnya dengan jemput gratis, bayar cash langsung. Punya pertanyaan seputar jelantah? Hubungi kami via WhatsApp 0812-9565-7833.